Dia Ternyata Sosok #Inspiratif Ku

Rwcmediaku.com - Menginjakkan kaki di sebuah kampus untuk pertama kalinya membuat perasaanku berdebar-debar tak karuan. Seperti anak kecil yang hendak sekolah di taman kanak-kanak baru, rasanya luar biasa. Tak sabar bertemu kawan-kawan baru dan belajar ilmu baru.

Aah, jadi gini rasanya jadi mahasiswa baru, pikirku berbunga-bunga.

Saat itu bulan September, semester awal dari perjalananku menjadi MaBa. Dari awal aku selalu tertarik dengan sebuah papan seperti mading di zaman SMA. Papan itu berwarna merah dengan tempelan kertas-kertas diprint bertuliskan opini dan pendapat warga kampus tentang apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan kritikkan kepada siapa pun yang mereka tujukan.
http://www.trendsnow.net

Tiba-tiba aku melihat sebuah artikel yang menarik dari seorang anak di fakultas yang sama denganku. Tulisan dari anak jurusan lain, tapi dilihat dari nomor induknya, ia tampaknya sama-sama Maba. Selain itu tema yang diangkat dalam tulisan kritis yang ia paparkan dalam beberapa lembar kertas itu tampaknya juga opini khas anak baru.

Anak berinisial NTE itu ternyata sedang mengkritik sistem yang diberlakukan di jurusannya terkait dengan pelaksanaan tradisi OSPEK dan �Malam Keakraban�.

Dua acara itu termasuk �wajib� untuk anak baru. Rupanya si NTE ini memaparkan betapa rusaknya acara yang dijadikan tradisi. Ia menuliskan dengan gamblang bagaimana mungkin mereka yang disebut mahasiswa memperlakukan maba dengan tradisi kekerasan terselubung yang �berkedok� keakraban antara senior dan junior?

Nyatanya justru yang terjadi adalah perpeloncoan dan kekerasan yang membuat anak-anak baru secara mental ditekan dan �dikebiri� hak-haknya oleh senior. padahal mereka adalah �kakak-kakak� yang seharusnya membantu untuk beradaptasi dengan cara yang lebih beradab, lebih cerdas (karena mereka sudah jadi mahasiswa lebih dulu).

Tulisan yang ia kemukakan cukup panjang. Namun membuatku terhenyak. Apa yang dia tulis benar-benar mewakili apa yang kurasakan sebagai maba. Bahkan aku juga diperlakukan sama buruknya dengan kakak-kakak seniorku di awal kuliah dulu karena aku menolak ikut berkemah di acara malam keakraban. Padahal aku memang tidak bisa ikut karena aku punya penyakit asma, di samping itu aku juga sudah berpikir bahwa kami akan dipelonco dan disuruh melakukan hal-hal aneh, dikerjain, dan sebagainya. Duh, males banget!

Masih ingat waktu aku bilang aku tidak mau datang di acara itu, langsng saja aku disuruh berdiri di depan kelas dan dipermalukan secara verbal di depan teman-temanku.

Sayang sekali waktu itu aku tidak punya keberanian untuk menyampaikan apa yang NTE sampaikan. Tulisannya sangat �cantik� sekaligus menusuk sangat dalam. Bagi senior, apa yang ditulis NTE adalah ancaman yang bisa menggangggu kestabilan sistem yang sudah langgeng selama ini di kampus kami.

Sistem perpeloncoan terselubung yang membuat anak-anak baru harus manut begitu saja apa yang disuruh kakak-kakak senior. Kalau menolak, bisa diancam dengan berbagai alasan. Yang nggak akan dipinjami catatan lah, nggak dibantu soal-soal UTS/ UAS lah, dan alasan-alasan nggak mutu lainnya.

Setelah surat terbuka penuh dengan kritikan itu dipasang di mading. Beberapa hari kemudian kehebohan terjadi. NTE banyak dihujat oleh para senior di kampus kami. Baik yang sejurusan dengannya atau tidak. Hujatan juga disampaikan lewat mading tersebut dan bisa dibaca oleh orang banyak.

Aku mengikuti perkembangannya dari hari ke hari. Betapa banyak yang memusuhi NTE karena kritikannya. Bahkan ia dianggap �public enemy� oleh teman-teman sejurusannya sendiri, dianggap sebagai �perusak kekompakan� anak-anak di jurusannya.

Dengan penolakannya terhadap acara Ospek dan malam keakraban, maka ia pun dianggap merusak tradisi turun-temurun yang ada di kampus. Ia tidak pantas untuk dijadikan teman karena menolak bersatu dengan apa yang telah menjadi tradisi selama ini. Perusak tradisi tentu saja dianggap sebagai pembelot dan dianggap provokator untuk merenggangkan hubungan antara senior dan maba.

Padahal...kan, semua juga tahu kalau perpeloncoan itu benar-benar ada. Benar-benar �dirayakan�. Benar-benar �dilestarikan�.

Melihat apa yang ditulis NTE dengan berani. Aku belajar untuk berani. Belajar untuk berkata �tidak� untuk hal-hal yang memang ITU SALAH. Meski yang menyuruhnya adalah orang dengan kualifikasi lebih tua umurnya dari kita, lebih tinggi jabatannya dari kita, lebih banyak hartanya dari kita, lebih populer status sosialnya dibanding kita, dan alasan-alasan lainnya.

Karena itulah, aku juga berharap bisa menulis hal-hal yang benar. Melalui blog, aku ingin berbagi pengalaman dan tulisan yang jujur dari hati. Meski tak semua orang menyukai atau mau repot-repot mengapresiasi. Berusaha untuk bisa tetap teguh menjadi pribadi yang kuat dan jujur serta menolak hal-hal yang memang tidak pada tempatnya. Aku berharap bisa setegar dia-sosok yang tak kukenal di kampusku dulu- saat dialienasi orang lain. Berjuang untuk tidak goyah dengan ancaman karena aku yakin aku bisa teguh dengan prinsipku.

Jika salah, katakan salah.

Tak perlu takut berkata benar.
-NTE is still the inspiration for me, to speak the truth, to be honest, to be confident even the whole world hate us, as long as we are standing in the right path. -

---
Wassalam



Sumber Artikel : Neecha
Sumber Gambar : Google dan Penulis
Previous
Next Post »
0 Komentar